Twins

Standar

Gambar

Title                     : Twins

Author                 : kiddyeo

Genre                 : fluff, brothership, friendship

Cast                   : Kim Taehyung, Byun Baekhyun, & Park Harim (you)

Rating                : PG-12

Lenght               : <1500 words

Summary           :  What if you’re friends with a naughty twins? What should you do?

 

Happy Reading^^

 

“BYUN BAEKHYUN!”

Suara teriakan Seo saem menggema di penjuru kelas. Seperti biasa, lagi-lagi Byun Baekhyun, namja nakal dari kelas unggulan berulah kembali. Baekhyun menaruh lem diatas bangku guru. Alhasil, Seo saem tidak dapat bangun dari duduknya. Memang Seo saem tidak tahu siapa pelakunya, tetapi bila kita cek dari daftar panggila ke ruang kepala sekolah, sudah dipastikan Baekhyun pelakunya.

Baekhyun tidak sendiri biasanya ia melancarkan aksi gilanya bersama kembarannya, Byun Taehyung. Mereka berdua kembar identik dengan sifat jahil yang diatas rata-rata. Tetapi  Baekhyun lebih unggul dalam soal menjahili seseorang. Tambahan, kecerdasan mereka berdua pun diatas rata-rata. Jadi, guru-guru harus berpikir ulang untung mengeluarkan mereka dari sekolah. Karena mereka berdualah sosok berprestasi dari sekolah.

Begitu tidak beruntungnya yang berdekatan dengan mereka. Karena hampir setiap hari mereka akan melancarkan aksi nya kepada teman dekatnya. Dan itu aku.

“Harim-ah, lihat. Kami berdua sukses mengerjai Seo saem. Guru siapa yang tidak dapat kami taklukkan?” ujar Taehyung kepadaku.

Lihat dia masih bisa tersenyum dan tertawa setelah ketahuan mengerjai salah satu guru killer  di sekolah. Betapa sintingnya mereka.

Aku berdesis. “Cho saem? Kalian berdua belum berhasil menaklukkannya,” kataku.

Cho saem adalah guru ilmu pengetahuan alam sekaligus wakil kepala sekolah. Umur Cho saem hampir menginjak kepala lima. Itu membuatnya mudah terpancing emosi bila kelas begitu ribut hingga susah diatur. Cho saem begitu dihormati di sekolah. Dia juga tak pernah bolos bekerja. Demi anak didiknya, dan demi kemajuan negara dia giat mengajar dari pagi hingga sore hari. Betapa disiplin Cho saem.

Taehyung memanggil Baekhyun setelah mendengar perkataanku. Dia berbincang sebentar dengan Baekhyun. Tak peduli walau Seo saem sudah memanggil keduanya beberapa kali.

“Cho saem, ya? Ah, sepertinya hari ini akan menjadi hari sial baginya,” ucap Taehyung kepadaku. Taehyung berdiri dari bangkunya dan membantu Seo saem untuk berdiri dari duduk.

Sungguh? Apakah mereka bercanda? Mereka mencari mati, heh?

“Baekhyun-ah, kau sungguh ingin meng-eum … Cho saem?” tanyaku. Baekhyun menoleh. Alisnya terangkat sebelah. Ia tak mengerti perkataan ku soal ‘meng-eum.’

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Dia baru bisa mencerna pertanyaanku, “oh-ya, betul. Karena ide darimu, aku dan Taehyung berencana mengerjainya hari ini seusai pulang sekolah. Dan kau harus ikut.”

Aku mendelik kepadanya. Dia membalas dengan menggindik kan bahu, seperti berkata ‘aku tak peduli.’ Satu lagi mereka berdua begitu mengesalkan dan egois. Sekarang aku hanya bisa membayangi bila aku menjadi salah satu bagian mereka, pasti aku akan di keluarkan dari sekolah.

***

Sepulang sekolah Baekhyun dan Taehyung menarik ku untuk bersembunyi di gudang sekolah. Perabotan kebersihan sekolah ada di ruangan ini. Gelap. Tentu saja, ruangan besar ini hanya mempunyai satu penerang dan itupun sudah meremang. Baekhyun dan Taehyung sedang sibuk mencari beberapa barang di gudang.

Rak-rak berjajar rapih menyimpan perabotan tua yang belum juga di buang oleh sekolah. Baekhyun dan Taehyung memanfaatkan dengan baik perabotan tua itu. Aku memandang mereka tak tertarik. Aku lebih tertarik untuk memikirkan cara meloloskan diri dari mereka.

“Harim, aku tahu kau sedang berpikir untuk meloloskan diri dari kami, bukan?” tebak Baekhyun yang benar-benar tepat sasaran. Aku terkaku di tempat. Bahkan aku tidak bisa membalas tebakkan nya yang akurat. Aku speechless.

“Aku anggap itu jawaban yang benar. Taehyungie, cegat dia,” perintah Baekhyun kepada adik kembarannya.

Taehyung memang terlebih dahulu lahir ketimbang Baekhyun. Tetapi dalam ilmu kedokteran anak kembar yang lahir terlebih dahulu adalah adiknya. Entahlah, aku tahu fakta itu dari penjelasan mereka.

Taehyung meraih kedua tanganku kemudian memborgol tanganku dengan tangannya. Apa-apaan ini? Aku seperti penjahat yang tertangkap saja. “Hey-ya! Lepaskan! Kau pikir aku ini penjahat, heh?!” pekik ku. Taehyung mendesis, “kau bisa diam tidak? Aish, sehabis pulang sekolah aku harus ke dokter telinga, ah-jinjja.”

Aku mendengus kesal. Baekhyun membereskan barang-barang yang tidak berguna lagi. Nampaknya Baekhyun selesai dengan hasil karyanya bersama Taehyung. Butuh lima belas menit untuk membuat hasil karya mereka. Hasil karya yang sangat aneh (menurutku). Seperti bantalan kursi yang agak datar. Berisikan kapas dan juga aliran listrik. Jika kita menduduki bantalan kursi tersebut maka kita akan merasakan listrik kejut yang mengagetkan bukan mematikan.

Lagi-lagi dua anak kembar itu menarik ku. Kali ini mereka menarikku kedalam ruang kelas kami. Kelas sepi, bahkan tak ada satupun murid dikelas. Mungkin saja mereka  sedang makan siang dikantin sekolah.

“Ah, gara-gara kalian, aku tidak bisa menyantap hidangan kantin sekolah. Asal kalian tahu saja, menu kali ini begitu lezat! Kudapan favoritmu kalian pun ada di dalam menu!” seruku.

Baekhyun dan Taehyung menghiraukan seruanku. Mereka sibuk dengan menata bantalan duduk untuk Cho saem. Aku berkacak pinggang. Byun bersaudara menatapku bingung.

Arra, aku mendengarkanmu sejak tadi. Nanti Baekhyun akan mentraktirmu kudapan yang sama persis seperti di menu hari ini,” kata Taehyung.

*** 

Bel berdering dua kali  menandakan waktu belajar kembali. Lebih tepatnya, waktu yang membosankan yang pernah ada kembali diputar. Ya, itu adalah fakta benar bagi ku dan murid-murid lainnya. Hatiku berdebar sangat kencang. Siapa yang tidak berdebar hatinya jika ia ketahuan berbuat kesalahan. Apalagi kesalahan yang disengaja. Aku melirik dua anak kembar itu, mereka tampak tenang. Gila! Bagaimana bisa mereka tenang jika berbuat kesalahan?

Mulutku berkomat-kamit tak jelas, berdoa semoga Cho saem tidak masuk ataupun pergi karena ada acara mendadak. Sepertinya kali ini Dewi Fortuna tidak berpihak kepadaku, Cho saem datang dengan langkah khasnya yang unik. Ia membawa sekitar lima buku setebal kamus Korea-Inggris. Ketua kelasku berdiri dan memberi pengarahan pada murid kelas ku untuk hormat kepada Cho saem. Cho saem berjalan menuju bangku yang sudah ditaruh bantalan kursi. Cho saem  duduk dengan tenang. Tak ada perubahan raut wajahnya.

Baekhyun dan Taehyung menaikkan alisnya bingung. Apakah alat itu berfungsi? Mungkin itu hal yang mereka pikirkan saat ini. Baekhyun dan Taehyung saling melirik, linglung. Aku hanya bisa bernafas lega mengetahui benda itu tidak bekerja seperti yang diharapkan Byun bersaudara.

Cho saem mulai bersuara, “jika kalian mempunyai bakat dibidang elektronika, salurkan lah bakat itu di ekstrakurikuler yang sesuai. Bukan menyalurkannya kepada guru. Itu tidak sama sekali menambah nilai kalian. Adanya, nilai kalian akan berkurang karena berbuat hal yang tidak menyenangkan. Kalian mengerti?”

“Ah-ya, bagi yang membuat bantalan kursi listrik kejut ini, kalian sangat pintar. Dengan peralatan seadanya kalian dapat membuat bantalan kursi listrik kejut yang sukses mengerjai saya. Saya bukannya tahu, tetapi saya menebak yang membuat ini pasti Byun bersaudara, bukan?”

Cho saem mengoceh tak jelas. Sungguh, itu tidak keren banget! Cho saem terkena jebakkan Baekhyun dan Taehyung tetapi tidak mengomel sedikit pun. Aku bertaruh pasti Baekhyun dan Taehyung terkejut mengetahui Cho saem tidak marah dan mengetahui pelakunya siapa.

Baekhyun dan Taehyung tersenyum selebar tiga jari khas mereka. Mereka sudah tahu apa hukuman yang mereka dapatkan. Tidakkah mereka kenyang mendapatkan hukuman yang sama setiap hari? Baekhyun dan Taehyung berdiri di depan, salah satu kaki mereka diangkat sedangkan kedua tangan mereka berada di belakang kepala.

Taehyung kembali berdiri seperti biasa ia berkata, “oh-ya, saem, yang mengusulkan ide untuk mengerjai saem adalah Harim. Lalu kenapa ia tidak di hukum?”

Setelah Taehyung mengatakan sepotong kalimat tersebut, aku seakan terbelah terbagi menjadi beberapa bagian. Langitpun turun menimpaku. Cho saem menaikkan alis kanannya, meminta penjelasan.

A-anio! Aku tidak bermaksud mengusulkan ide. Aku hanya berkata bahwa saem tidak bisa ditaklukkan oleh mereka. Tetapi, mereka salah menangkap maksudku. Lalu mereka menyuruhku untuk membantu mereka di gudang. Tetapi, sungguh, aku tidak membantunya. Bahkan aku hendak ingin kabur, dan sialnya aku  di cegat oleh Taehyung,” belaku.

Cho saem hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar pembelaanku. “Ah, baiklah kalau begitu. Aku memaafkan mu nona Park. Sekarang kau, Baekhyun, dan Taehyung keluar dari kelas saya dan hormat kepada bendera! Sekarang!” perintah Cho saem.

Apa? Apa aku tuli? Apa aku tidak salah dengar? Aku dikeluarkan dari kelas ? Apakah ini mimpi? Oh God.

Aku berjalan keluar kelas membuntuti Baekhyun dan Taehyung yang terlebih dahulu keluar dari kelas. Seringai menyeramkan terlukis diwajah mereka. Aku mendengus, berdecak, mengomel tak jelas.

“Ah, lebih baik seperti ini. Menghirup udara segar, dibanding mendengarkan guru tua itu berkomat-kamit,” ujar Taehyung.

“Kalian gila!”

“Memang. Oh ya, Baekhyun sudah berjanji untuk mentrakrirmu, bukan? Jadi, kajja, ada kudapan yang menanti kita!” sahut Taehyung bersemangat. Aku mengiyakan saja sahutan Taehyung. Aku lapar, aku belum sarapan dan makan siang. Jadi, lebih baik aku menyetujui ide mereka saja. Kupikir akan seru jika mengendap-endap keluar dari sekolah tanpa tertangkap oleh penjaga sekolah.

Taehyung dan Baekhyun menyuruhku mengikuti mereka, lagi. Kali ini mereka membawaku ke taman belakang sekolah. Terdapat pintu tua yang sudah tidak digunakan lagi sejak tiga tahun terakhir. Kami mengendap-endap layaknya tikus. Baekhyun memeriksa dengan teliti bahwa taman belakang tidak ada penjaga sekolah. Setelah memberi tanda, aku dan Taehyung berlari menuju Baekhyun yang bersandar pada pintu tua.

“Kita akan menggunakan pintu ini? Tapi ‘kan pintu ini terkunci,” tanyaku.

“Aku memiliki kuncinya,” kata Baekhyun sambil memainkan kunci yang ada ditangannya. Aku dan Taehyung tersenyum puas. Baekhyun membuka gembok dengan kunci. Sepertinya aku sudah kerasukan jin bolos atau apalah itu. Lihat saja, aku tersenyum senang saat Baekhyun membuka gembok. Tak apa, nikmati saja lah masa mudaku dengan dua anak kembar ini. 

You only live once

 

FIN

 

 

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s